Cerita Dewasa Kakak Gebetanku Yang Liar

Posted on

Selamat datang di Cerita Dewasa Persembahan layarbasah. saat ini Team Cerita mesum ingin membagikan cerita yang berjudul Cerita Dewasa Kakak Gebetanku Yang LiarSelalu dapatkan Cerita Terbaru dari kami dengan membookmark halaman website kami dengan menekan tombol CTRL + D.

Cerita Dewasa Kakak Gebetanku Yang Liar

bandar sakong terpercaya domino kiu kiu

Cerita Dewasa Kakak Gebetanku Yang Liar

Selesai sekolah Sabtu itu langsung dilanjutkan rapat pengurus OSIS. Rapat itu dilakukan sebagai persiapan sekaligus pembentukan panitia kecil pemilihan OSIS yang baru.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pemilihan dimaksudkan sebagai regenerasi dan anak-anak kelas 3 sudah tidak boleh lagi dipilih jadi pengurus, kecuali beberapa orang pengurus inti yang bakalan “naik pangkat” jadi penasihat.

Usai rapat, aku bergegas mau langsung pulang, soalnya sorenya ada acara rutin bulanan yaitu pulang ke rumah ortu di kampung. Belum sempat aku keluar dari pintu ruangan rapat, suara nyaring cewek memanggilku.

“Adit .. “ aku menoleh, ternyata Rahma yang langsung melambai supaya aku mendekat.

“Dit, jangan pulang dulu. Ada sesuatu yang mau aku omongin sama kamu,” kata Rahma setelah aku mendekat.

“Tapi Ma, sore ini aku mau ke kampung. Bisa nggak dapet bis kalau kesorean,” jawabku.

“Cuman sebentar kok Dit. Kamu tunggu dulu ya, aku beresin ini dulu,” Rahma agak memaksaku sambil membenahi catatan-catatan rapat.

Akhirnya aku duduk kembali.

“Dit, kamu pacaran sama Nana ya?” tanya Rahma setelah ruangan sepi, tinggal kami berdua. Aku baru mengerti, Rahma sengaja melama-lamakan membenahi catatan rapat supaya ada kesempatan ngomong berdua denganku.

“Emangnya, ada apa sih?” aku balik bertanya.

“Enggak ada apa-apa sih .. “ Rahma berhenti sejenak.

“Emmm, pengin nanya aja.”

“Enggak kok, aku nggak pacaran sama Nana,” jawabku datar.

“Ah, masa. Temen-temen banyak yang tahu kok, kalau kamu suka jalan bareng sama Nana, sering ke rumah Nana,” kata Rahma lagi.

“Jalan bareng kan nggak berarti pacaran tho,” bantahku.

“Paling juga pakai alasan kuno ‘Cuma temenan’,” Rahma berkata sambil mencibir, sehingga wajahnya kelihatan lucu, yang membuatku ketawa.

“Cowok di mana-mana sama aja, banyak bo’ongnya.”

“Ya terserah kamu sih kalau kamu nganggep aku bohong. Yang jelas, sudah aku bilang bahwa aku nggak pacaran sama Nana.”

Aku sama sekali tidak bohong pada Rahma, karena aku sama Nana memang sudah punya komitmen untuk ‘tidak ada komitmen’. Maksudnya, hubunganku dengan Nana hanya sekedar untuk kesenangan dan kepuasan, tanpa janji atau ikatan di kemudian hari. Hal itu yang kujelaskan seperlunya pada Rahma, tentunya tanpa menyinggung soal ‘seks’ yang jadi menu utama hubunganku dengan Nana.

“Nanti malem, mau nggak kamu ke rumahku?” tanya Nana sambil melangkah keluar ruangan bersamaku.

“Kan udah kubilang tadi, aku mau pulang ke rumah ortu nanti,” jawabku.

“Ke rumah ortu apa ke rumah Nana?” tanya Rahma dengan nada menyelidik dan menggoda.

“Kamu mau percaya atau tidak sih, terserah. Emangnya kenapa sih, kok nyinggung-nyinggung Nana terus?” aku gantian bertanya.

“Enggak kok, nggak kenapa-kenapa,” elak Rahma.

Akhirnya kami jalan bersama sambil ngobrol soal-soal ringan yang lain. Aku dan Rahmapun berpisah di gerbang sekolah. Nana sudah ditunggu sopirnya, sedang aku langsung menuju halte. Sebelum berpisah, aku sempat berjanji untuk main ke rumah Nana lain waktu.

Diam-diam aku merasa geli. Masak malam minggu itu jalan-jalan sama Rahma harus ditemani kakaknya, dan diantar sopir lagi. Jangankan untuk ML, sekedar ciuman pun rasanya hampir mustahil. Sebenarnya aku agak ogah-ogahan jalan-jalan model begitu, tapi rasanya tidak mungkin juga untuk membatalkan begitu saja.

Rupanya aturan orang tua Rahma yang ketat itu, bakalan membuat hubunganku dengan Rahma jadi sekedar roman-romanan saja. Praktis acara pada saat itu hanya jalan-jalan ke Mall dan makan di ‘food court’.

Di tengah rasa bete itu aku coba menghibur diri dengan mencuri-curi pandang pada Mbak Wenny, baik pada saat makan ataupun jalan. Mbak Wenny, adalah kakak sulung Rahma yang kuliah di salah satu perguruan tinggi terkenal di kota ‘Y’. Dia pulang setiap 2 minggu atau sebulan sekali.

Sama sepertiku, hanya beda level. Kalau Mbak Wenny kuliah di ibukota propinsi dan mudik ke kotamadya, sedang aku sekolah di kotamadya mudiknya ke kota kecamatan.

Wajah Mbak Wenny sendiri hanya masuk kategori lumayan. Agak jauh dibandingkan Rahma. Kuperhatikan wajah Mbak Wenny mirip ayahnya sedang Rahma mirip ibunya. Hanya Mbak Wenny ini lumayan tinggi, tidak seperti Rahma yang pendek, meski sama-sama agak gemuk.

Kuperhatikan daya tarik seksual Mbak Wenny ada pada toketnya. Lumayan gede dan kelihatan menantang kalau dilihat dari samping, sehingga rasa-rasanya ingin tanganku menyusup ke balik T-Shirtnya yang longgar itu. Aku jadi ingat Nana. Ah, seandainya tidak aku tidak ke rumah Rahma, pasti aku sudah melayang bareng Nana.
Saat Rahma ke toilet, Mbak Wenny mendekatiku.

“Heh, awas kamu jangan macem-macem sama Rahma!” katanya tiba-tiba sambil memandang tajam padaku.

“Maksud Mbak, apa?” aku bertanya tidak mengerti.

“Rahma itu anak lugu, tapi kamu jangan sekali-kali manfaatin keluguan dia!” katanya lagi.

“Ini ada apa sih Mbak?” aku makin bingung.

“Alah, pura-pura. Dari wajahmu itu kelihatan kalau kamu dari tadi bete,” aku hanya diamsambil merasa heran karena apa yang dikatakan Mbak Wenny itu betul.

“Kamu bete, karena malem ini kamu nggak bisa ngapa-ngapain sama Rahma, ya kan?” aku hanya tersenyum, Mbak Wenny yang tadinya tutur katanya halus dan ramah berubah seperti itu.

“Eh, malah senyam-senyum,” hardiknya sambil melotot.

“Memang nggak boleh senyum. Abisnya Mbak Wenny ini lucu,” kataku.

“Lucu kepalamu,” Mbak Wenny sewot.

“Ya luculah. Kukira Mbak Wenny ini lembut kayak Rahma, ternyata galak juga!” Aku tersenyum menggodanya.

“Ih, senyam-senyum mlulu. Senyummu itu senyum mesum tahu, kayak matamu itu juga mata mesum!” Mbak Wenny makin naik, wajahnya sedikit memerah.

“Mbak cakep deh kalau marah-marah,” makin Mbak Wenny marah, makin menjadi pula aku menggodanya.

“Denger ya, aku nggak lagi bercanda. Kalau kamu berani macem-macem sama adikku, aku bisa bunuh kamu!” kali ini Mbak Wenny nampak benar-benar marah.

Akhirnya kusudahi juga menggodanya melihat Mbak Wenny seperti itu, apalagi pengunjung mall yang lain kadang-kadang menoleh pada kami. Kuceritakan sedikit tentang hubunganku dengan Rahma selama ini, sampai pada acara ‘apel’ pada saat itu.

“Kalau soal pengin ngapa-ngapain, yah, itu sih awalnya memang ada. Tapi, sekarang udah lenyap. Rahma sepertinya bukan cewek yang tepat untuk diajak ngapa-ngapain, dia mah penginnya roman-romanan aja,” kataku mengakhiri penjelasanku.

“Kamu ini ngomongnya terlalu terus-terang ya?” Nada Mbak Wenny sudah mulai normal kembali.

“Ya buat apa ngomong mbulet. Bagiku sih lebih baik begitu,” kataku lagi.

“Tapi .. kenapa tadi sama aku kamu beraninya lirak-lirik aja. Nggak berani terus-terang mandang langsung?”

Aku berpikir sejenak mencerna maksud pertanyaan Mbak Wenny itu. Akhirnya aku mengerti, rupanya Mbak Wenny tahu kalau aku diam-diam sering memperhatikan dia.

“Yah .. masak jalan sama adiknya, Mbak-nya mau diembat juga,” kataku sambil garuk-garuk kepala.

Setelah itu Rahma muncul dan dilanjutkan acara belanja di dept. store di mall itu. Selama menemani kakak beradik itu, aku mulai sering mendekati Mbak Wenny jika kulihat Rahma sibuk memilih-milih pakaian. Aku mulai lancar menggoda Mbak Wenny.

Hampir jam 10 malam kami baru keluar dari mall. Lumayan pegal-pegal kaki ini menemani dua cewek jalan-jalan dan belanja. Sebelum keluar dari mall Mbak Wenny sempat memberiku sobekan kertas, tentu saja tanpa sepengetahuan Rahma.

“Baca di rumah,” bisiknya.

Aku lega melihat Mbak Wenny datang ke counter bus PATAS AC seperti yang diberitahukannya lewat sobekan kertas. Kulirik arloji menunjukkan jam setengah 9, berarti Mbak Wenny terlambat setengah jam.

“Sori terlambat. Mesti ngrayu Papa-Mama dulu, sebelum dikasih balik pagi-pagi,” Mbak Wenny langsung ngerocos sambil meletakkan hand-bag-nya di kursi di sampingku yang kebetulan kosong. Sementara aku tak berkedip memandanginya.

Mbak Wenny nampak sangat feminin dalam kulot hitam, blouse warna krem, dan kaos yang juga berwarna hitam. Tahu aku pandangi, Mbak Wenny memencet hidungku sambil ngomel-ngomel kecil, dan kami pun tertawa. Hanya sekitar sepuluh menit kami menunggu, sebelum bus berangkat.

Dalam perjalanan di bus, aku tak tahan melihat Mbak Wenny yang merem sambil bersandar. Tanganku pun mulai mengelu-elus tangannya. Mbak Wenny membuka mata, kemudian bangun dari sandarannya dan mendekatkan kepalanya padaku.

“Gimana, Mbaknya mau di-embat juga?” ledeknya sambil berbisik.

“Kan lain jurusan,” aku membela diri.

“Adik-nya jurusan roman-romanan, Mbak-nya jurusan..“ Aku tidak melanjutkan kata-kataku, tangan Mbak Wenny sudah lebih dulu memencet hidungku. Selebihnya kami lebih banyak diam sambil tiduran selama perjalanan.

Yang disebut kamar kos oleh Mbak Wenny ternyata sebuah faviliun. Faviliun yang ditinggali Mbak Wenny kecil tapi nampak lux, didukung lingkungannya yang juga perumahan mewah.

“Kok bengong, ayo masuk,” Mbak Wenny mencubit lenganku. “Peraturan di sini cuman satu, dilarang mengganggu tetangga. Jadi, cuek adalah cara paling baik.”

Aku langsung merebahkan tubuhku di karpet ruang depan, sementara setelah meletakkan hand-bag-nya di dekat kakiku, Mbak Wenny langsung menuju kulkas yang sepertinya terus on.

“Nih, minum dulu, habis itu mandi,” kata Mbak Wenny sambil menuangkan air dingin ke dalam gelas.

“Kan tadi udah mandi Mbak,” kataku.

“Ih, jorok. Males aku deket-deket orang jorok,” Mbak Wenny tampak cemberut.

“Kalau gitu, aku duluan mandi,” katanya sambil menyambar hand-bag dan menuju kamar.

Aku lihat Mbak Wenny tidak masuk kamar, tapi hanya membuka pintu dan memasukkan hand-bag-nya. Setelah itu dia berjalan ke belakang ke arah kamar mandi.

“Mbak,” Mbak Wenny berhenti dan menoleh mendengar panggilanku. “Aku mau mandi, tapi bareng ya?”

“Ih, maunya .. “ Mbak Wenny menjawab sambil tersenyum. Melihat itu aku langsung bangkit dan berlari ke arah Mbak Wenny. Langsung kupeluk dia dari belakang tepat di depan pintu kamar mandi.

Kusibakkan rambutnya, kuciumi leher belakangnya, sambil tangan kiriku mengusap-usap pinggulnya yang masih terbungkus kulot. Terdengar desahan Mbak Wenny, sebelum dia memutar badan menghadapku. Kedua tangannya dilingkarkan ke leherku.

“Katanya mau mandi?” setelah berkata itu, lagi-lagi hidungku jadi sasaran, dipencet dan ditariknya sehingga terasa agak panas.

bandar sakong terpercaya domino kiu kiu